Istilah-Istilah Dalam Kultur Motorcycle Club (MC) di Amerika

Patch : Merupakan sebuah bentuk identitas dalam kultur biker di Amerika. Biasanya terbuat dari kain yang di bordir. Biker di Indonesia biasa menyebutnya dengan istilah bordiran atau emblem.

Colors : Istilah lain untuk menyebut lambang atau simbol klub.

*.F.F.*.: (… Forever Forever …) Sebuah akronim yang biasa digunakan untuk menunjukan propaganda loyalitas terhadap sebuah klub. Contohnya seperti Hells Angels yang menggunakan istilah ini dengan sebutan AFFA (Angels Forever Forever Angels) dan Bandidos (Bandidos Forever Forever Bandidos), dsb. Untuk di Indonesia term ini mulai familiar terdengar dalam kultur bikers tanah air. Contohnya Bikers Brotherhood MC (BFFB – Brotherhood Forever Forever Brotherhood), Outsiders MMC (OFFO – Outsiders Forever Forever Outsiders) , dsb.

1%: Menurut kultur asalnya di Amerika, patch 1% (Disebut juga 1%er atau one-percenter) ini digunakan oleh setiap biker yang menyatakan dirinya sebagai seorang “outlaw” dan dimaknai sebagai sebuah simbol pernyataan dan perlawanan terhadap statement American Motorcycle Association (AMA). Sebagaimana pernyataan AMA (semacam IMI-nya di Amerika) bahwa 99% para pengendara motor disana adalah mereka yang taat pada hukum. Namun makna dari 1% ini mungkin saja dimaknai berbeda oleh suatu klub dimana biasanya hanya diketahui oleh anggota dari klub tersebut.

13: Simbol ini menunjukan bahwa mereka yang menggunakan patch tersebut adalah para pengguna obat-obatan terlarang atau narkotika. Huruf M merupakan istilah dari marijuana atau motorcycle sekaligus huruf ke-13 dalam abjad. Sehingga sering di asumsikan bahwa mereka yang menggunakan patch ini adalah para pemakai ganja dan menggunakan angka ke-13 ini sebagai simbolnya, Marijuana = M = 13.

Ace Of Spades: Simbol sekop dalam kartu remi. Secara umum biker yang memasang patch ini diartikan sebagai seseorang yang akan mempertahankan dan mempertaruhkan dirinya sendiri sampai titik darah penghabisan. Sebagian ada pula yang menyertakan simbol tengkorak atau kata-kata “Bringer Of Death” (Pembawa Kematian).

Bad Influence: Mengindikasikan bahwa pemakai patch ini adalah seseorang yang beringas.

Charity Run Pins: Pin atau lencana yang diberikan karena telah menghadiri sebuah acara amal yang diselenggarakan klub.

G.F.O.D: “God Forgives Outlaws Don’t”

I.T.C.O.B: “I Took Care Of Business”, term ini biasanya digunakan oleh anggota yang telah melakukan aksi pembunuhan demi kepentingan klubnya.

Less than 1%er: Sebuah plesetan yang digunakan para anggota Indios MC yang menyatakan bahwa populasi Indian di Amerika kurang dari 1%.

MC: Kepanjangan dari Motorcycle Club, biasanya di pasang pada bagian belakang rompi bersama dengan colors.

Road Names: Nama jalanan yang didapat atau diberikan oleh rekan se-angkatan ataupun seniornya di klub.

Skull & Crossbones: Menyatakan bahwa penggunanya merupakan seorang yang akan menempuh segala cara untuk membela dirinya sendiri, atau rekan-rekan di klubnya meskipun harus berakhir dengan adanya kematian.

Beberapa istilah di atas hanya sebagian dari berbagai term yang ada dan terus berkembang dalam kultur MC di Amerika. Semoga bisa memperkaya khazanah pengetahuan kita tentang sebuah sub-kultur di masyarakat, khususnya kultur barudak motor. Sehingga nantinya tidak menjadi salah kaprah apalagi sekedar ikut-ikutan ketika mengaplikasikan sebuah kultur tertentu. Bagaimanapun caranya sesuatu itu harus kita kenal mulai dari root-nya. Agar tidak menjadi salah paham di kemudian hari. (Dirangkum dari berbagai sumber)

3 thoughts on “Istilah-Istilah Dalam Kultur Motorcycle Club (MC) di Amerika

  1. di kulon sono, culture creating patchs & colors,
    disini ? patch creating culture, tanya kenapa….?

    toh biker disini ga berlaku seedan biker disono yang sampe bunuh-bunuhan bahkan perang demi dominasi bisnis haram…. atau mungkin belum? jangan sampe deh…

    kenapa engga biker kita bikin patch yang berbeda, contohnya biker jawa barat, ganti ace of spades dengan kujang, tingkatan jabatan dalam klub dilambangkan dengan lubang pada badan kujang, seperti layaknya kujang yang sebenarnya yang melambangkan tingkatan ilmu pemiliknya. itu cuma contoh aja…

    yang pasti dengan ciri khas keindonesiaan pasti lebih dihargai selayaknya persaingan “gengsi tak tertulis” diantara rakyat bikers, daripada niru-niru patch MC luar tapi cuma jadi bahan tertawaan dan olok-olok biker lainnya…

    • Saya pikir, di sini pun culture create patch/colors, karena pada dasarnya semiotika itu sudah hadir seiring lahirnya budaya manusia. Dan ujung2nya tetap menciptakan kultur itu sendiri.

      Let’s say:
      (AS) culture -> patch/colors = culture
      (Indonesia) patch/colors -> culture = culture🙂

      Tidak ada yg salah dgn menerapkan suatu kultur tertentu, yg salah itu salah kaprah, menelan mentah2, tidak mau mempelajari bagaimana kondisi sebenarnya dari kultur yg ingin diterapkan. Sehingga berpotensi jadi bahan tertawaan.🙂

      Untuk kriminalitas, bunuh2an kita juga ‘gak kalah’ dgn outlaw2 MC disono.

      Kultur biker kita ini saya rasa paling menarik sedunia,😀 bisa jadi bahan kajian ilmiah. Lihat saja dari mulai MC yg punya reputasi internasional sampe, tanpa bermaksud merendahkan, klub2 yg sering muncul seiring produsen sepeda motor mengeluarkan produk baru…

      Idenya ttg patch/colors yg lebih lokal sangat menarik, mungkin bisa langsung diterapkan di klub anda, bro…🙂

      terima kasih komentar & kunjungannya.

  2. karena nenek moyangnya MC memang bermula dari kulon sono om dan menyebarluas keseluruh negri termasuk kita. andaikan veteran2 perang dsana ga pernah bikin MC mungkin sampai skrg pun kita ga pernah ngerasain kumpul2 kelompok motor…..sedangkan gaya, pemahaman dari “outlaw” itu sendiri kini menjadi ruh bagi sebagian MC yg ada ditanah air yg menjadi isme atau penganut aliran tsb namun masih disesuaikan lg dgn nilai2 adat ketimuran, budaya2 yg sdh ada ditanah air tanpa menghilangkan pakem dari aliran tsb. bisa kita lihat dari MC2 yg menganut aliran “outlaw” ditanah air, mereka menanamkan nilai2 patriotisme, nasionalisme dan kenegarawan pd setiap life membernya. para foundernya bukan org sembarangan, mereka adlh konseptor, cendikiawan, akademisi, profesi, dll…..yg lbh banyak berfikir dan bekerja tanpa banyak berteori belaka. jiwa pemberontak n pembangkang thd aturan yg melekat dikalangan 1%ers dijewantahkan kedalam kebebasan berekpresi dlm media motor, pergaulan internal dlm komunitas semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s