Mengenang Pendakian Cikuray 2006

Ini pendakian pertama saya sejak tinggal kos di Bandung. G. Cikuray tepatnya berada di perbatasan antara kota Tasikmalaya dan Garut. Merupakan Gunung tertinggi di kota Garut dan salah satu gunung tertinggi keempat di Jawa Barat Setelah G.Ciremai, G.Pangrango dan G.Gede dengan ketinggian mencapai 2.821 m dpl. Berikut catatan perjalanannya.

Hari pertama 7 Februari 2006

Kami berangkat dari Bandung pukul 11 siang, setelah cek kelengkapan semua peralatan kami pun langsung berangkat menuju terminal Cicaheum, tak lupa berdoa untuk keselamatan dan kelancaran. Saya berangkat dari Bandung bersama 2 teman kampus (Hendra & Septi), sementara saudara saya menunggu di daerah Patrol – Garut. Tiba di Cicaheum, kami lanjut naik bis umum jurusan Garut, sepanjang perjalanan kami bercerita apa aja, sesekali godain mba2 yang hendak brangkat kerja ke pabrik2 di daerah Rancaekek. Perjalanan ke Garut ternyata cukup melelahkan. Sebelumnya sempat turun hujan selama di perjalanan. Sampai di terminal Guntur Garut pukul 1 siang dan ada kejadian cukup seru, Tenda yang kami bawa hampir terbawa bis yang kami tumpangi balik lagi ke Bandung, untung saja bisnya masih sempat terkejar. Setengah mati lari-larian… Lumayanlah buat pemanasan.

Kami sempatkan makan siang dahulu di terminal, lalu membeli lagi beberapa persediaan yang belum lengkap, sementara itu Basar (saudara saya) tak henti2nya menelpon minta agar cepat datang ke lokasi.

Setelah semua beres kami berangkat menuju daerah bernama Patrol naik angkot warna abu2, gampang banget kok nyari nya, banyak calo2 juga yang membantu. Tapi harus pintar2 nawar juga untuk urusan ongkos. Akhirnya kami sepakat dengan sang sopir untuk bayar ongkos sebesar 4ribuan tiap kepala, total jendral 12rb. Perjalanan menuju Patrol ini ditemani hujan yang cukup deras. Hingga akhirnya tibal di daerah tersebut sekitar pukul setengah 3 sore.

Sebelumnya kami sempat miscommunication dengan saudara saya yang sudah menunggu di Patrol. Jadi kami diturunin sopir di daerah yang salah. Sudah lewat Patrol (entahlah dimana, lupa nama tempatnya!) jadi terpaksa kami harus balik lagi naek angkot ke Patrol, ehh kebetulan sekali angkotnya sama dengan yang waktu berangkat dari terminal. Haha!

Hari pertama kami ngecamp di jalan aspal perkebunan teh, karena nyasar. Tujuannya sih mau ke relay, tetapi entah bagaimana, Basar malah hilang orientasi medan. Akhirnya coba mengikuti jalur jalan aspal, namun gagal. Terpaksalah kami bermalam di (tengah) jalan malam itu.

Sebenarnya kami masih bisa untuk tiba di relay, tapi hari terlanjur gelap dan kabut pun mulai turun, membuat jarak pandang jadi pendek.

Kami tiba di Nyampai selepas adzan Magrib. Malam itu langit cerah sekali, kami habiskan malam dengan ngobrol – ngobrol, main gaple, segelas kopi dan susu hangat serta rokok lintingan. Hmmm. Malam yang damai.

Hari Kedua 8 Februari 2006

Pagi saat itu cerah sekali, setelah menghabiskan malam indah yang panjang. Sesekali awan menyibakan dirinya membuat puncak Cikuray terlihat. Memicu semangat ini untuk sampai di atas sana. Setelah sarapan kami packing. Sempat berbincang2 dengan seorang petani pemetik teh yang kebetulan lewat camp kami, bercerita sekaligus menanyakan jalur2 pendakian. Setelah semuanya beres, kami pun siap2 berangkat. Tampak dari kejauhan ada truk pengangkut petani teh sedang menuju arah kami, kebetulan!. Akhirnya kami pun mendapat tumpangan menuju relay dengan truk tersebut. Hahaha… semuanya gembira. Bisa menghemat tenaga.

Sampai di relay kami mengisi air dahulu di sumber mata air, agak kebawah +/- 100 m dari relay menuju mata air tersebut, sekalian mandi dsb.

The journey begin. Dari kaki perkebunan teh berangkat pukul 10 pagi. Cukup melelahkan untuk pendakian pertama lagi, dimana dikosan kerjanya hanya tidur, makan, kuliah saja. 1-2 jam perjalanan masih terlihat bukit – bukit perkebunan teh yang menghijau, sejuk sekali. Ada beberapa petani yang sedang memetik teh sementara sebagian lainnya sedang turun untuk menimbang teh hasil petikannya, petaninya ramah-ramah.

Kabut tipis menyambut kedatangan kami di pintu masuk menuju hutan, membuat semangat saya makin bertambah. Dalam hati, saya tertawa-tawa sendiri (entah kenapa setiap mencium aroma hutan rasanya senang sekali. Semoga bukan kelainan. Hahaha!). Hawa pegunungan mulai terasa menusuk kulit, juga bau khas tumbuhan tropis mulai tercium. Sensasi ini lagi, sudah lama sekali tak saya rasakan. Memang selalu ada kepuasan tersendiri saat melakukan pendakian gunung. Mungkin itu jugalah yang menjadi salah satu alsan saya, dan kalian mungkin, naik gunung.

Jalur pendakian Cikuray ini memang menantang, boleh dibilang untuk pendaki pemula seperti kami sangat dibuat kerepotan. Cukup banyak tanjakan-tanjakan terjal yang harus dilalui oleh kami dengan merangkak. Sudah tak terhitung lagi berapa kali kami beristirahat, sekedar melemaskan otot-otot dan mengambil napas yang rata2 nafas perokok semua. Hahaha! Payah..!.

Tidak ada kejadian aneh selama perjalanan menuju puncak ini, sesekali terdengar suara – suara monyet, kicauan burung – burung dan para penghuni hutan Cikuray yang masih alami. Di perjalanan menuju puncak ini, kami sempat pula bertemu dengan kawan sesama pendaki dari STT Telkom yang baru turun, mereka berjumlah 9 orangan lebih (tepatnya lupa,,hehe) plus satu orang cewe. Sekitar pukul lima sore kami tiba di Pupuncakan (sebuah dataran yang tidak terlalu luas, disana juga terdapat tulisan-tulisan yang menunjukan arah menuju puncak sekitar +/-1km). Kami rehat sejenak disana sambil mengisi kembali stamina yang hampir terkuras habis selama perjalanan. Malah sempat putus asa juga dan merencanakan untuk ngecamp di pupuncakan, tapi Basar terus menyemangati kami untuk tetap lanjut menuju puncak hari itu juga. Tak lama kami beristirahat di dataran ini, karena hari pun sudah mulai gelap, setelah mengambil foto sebentar kami melanjutkan lagi perjalanan. Entah kenapa tiba-tiba saja semangat kami seperti hidup kembali, muncul begitu saja, semangat untuk tiba di puncak.

Akhirnya. Alhamdulillah ya Allah, kalimat yang pertama kali saya ucapkan setibanya di puncak. Jam menunjukan pukul 6. Tanpa basa – basi langsung sujud syukur, dipuncak ternyata sudah ada 5 orang pendaki yang telah bermalam dari hari sebelumnya. Beberapa menit kemudian Basar, Hendra dan Septi menyusul menuju puncak. Semuanya gembira, terharu, bangga, dan emosi yg bercampur aduk. Saling memberi selamat.

Di puncak ada bangunan semacam tower juga sebuah bangunan kecil, yang dimanfaatkan oleh 5 pendaki yang sudah tiba sebelumnya. Dinding bangunanya memprihatinkan, penuh coretan – coretan keangkuhan para pendaki-bajakan yang ingin mengabadikan namanya. Angkuh. Bukanya dipelihara, malah dirusak.

Di atas tower tepampang tulisan “Puncak Cikuray 2821 mdpl”. Malam hari di puncak saat itu tak secerah seperti saat di camp pertama. Hujan turun sepanjang malam. Tapi, tetap kami nikmati malam indah ini di puncak Cikuray. Kebersamaan menjadi penghangat.

Hari Ketiga 9 Februari 2006

Setelah sarapan dan mengambil beberapa potret diri di puncak, kami langsung packing kembali, bersiap untuk turun. Dan pulang membawa kenangan indah di Cikuray. Semoga bisa kembali berkunjung ke sana. Terima kasih Cikuray. Terima kasih Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s