Catatan

Yang Tertinggal Dari PDBW XV Rawa Lembang

logo-bw-kuningIni adalah cerita romantisme masa lalu bersama Bhuanawarman, tepatnya saat menjalani masa-masa pendidikan dasar. Gara-gara bukunya Kang Nondi tentang Wanadri berjudul “Setitik Cahaya di Kegelapan” lah saya jadi terangsang untuk menuliskan ceceran memori asiknya melakoni pendidikan dasar pencinta alam, belasan tahun lalu.

Saya pikir, mungkin setiap anggota pecinta alam manapun akan sepakat bahwa menjalani proses pendidikan PA sangat berkesan. Terlepas dari kontroversi metode pendidikan yang cenderung militerisme, bagi sebagian orang nilai-nilai (kehidupan), soft skills, yang didapatkan saat menjalani pendidikan cukup berguna dalam pembentukan mental karakter pribadinya. Tapi ini debatable, tidak ada satu metode pendidikan apapun yang benar-benar efektif bagi siapapun, masing-masing memiliki kecenderungan.

Butuh ekstra tenaga untuk bisa mengingat kembali ceceran kisah PDBW 13 tahun yang lalu. Banyak detail yang terlewat itu pasti, namun setidaknya kisah itu tercatat juga akhirnya. Terima kasih untuk beberapa rekan seangkatan yang membantu menyusun kembali ceceran ini.

Mengenal Bhuanawarman

Awal-awal menjadi siswa baru, saya tak tahu ada ekskul PA bernama Bhuanawarman alias BW di Saci (Saci adalah nama lain dari SMAN 1 Cimalaka). Eko, salah satu teman semasa SD yang kebetulan kembali satu sekolahan di SMA ini lah yang mengenalkannya pada saya.

Saat itu, entah mungkin sampai sekarang, ekskul PA seperti kalah pamor dengan ekskul2 mainstream semacam Pramuka atau Paskibra.

“Hayu ah urang ngiluan PA? Rame jigana loba kempingna.” begitu tawaran Eko antusias pada saya saat kami harus mengisi form ekskul apa yang akan diikuti suatu waktu.

Saya sempat ragu dan mempertimbangkan tawaran tersebut. Sebelum akhirnya sepakat dengan pilihan tersebut. Iya, karena kempingnya itu.

Singkat cerita, bergabunglah saya dengan ekskul ini. Menjalani latihan rutin selepas jam sekolah berakhir, setiap Selasa dan Jumat. Ironis, Eko yang nyata-nyata antusias mengajak, malah tidak melanjutkan hingga tahap PD dan seterusnya. Dia hanya ikut kegiatan Sebrang Basah lalu kemudian berhenti.

(Belakangan sempat intens komunikasi tentang kepencinta alaman dengannya saat berdinas di TNI AD dan mengambil pendidikan bidang kesehatan, ternyata dia menjadi perintis kelompok PA di kampusnya, Stikes Dustira)

Latihan rutin biasa diisi dengan pembahasan berbagai materi kepencintaalaman. Bagi saya saat itu sangat menarik. Materi2 yang disampaikan merupakan sesuatu yang baru. Navigasi darat, manajemen perjalanan, survival dsb benar-benar merupakan pengetahuan baru yang menggairahkan. Penuh petualangan. Walaupun saat sesi penyampaian oleh senior (kakak kelas) kadang membosankan. Hahaha…

Sesekali kami berlatih/praktek di luar ruangan. Seperti panjat dinding. Kang Cecep yang biasa memberikan bimbingan kegiatan panjat dinding. Dan beliau sangat mahir pada saat itu. Entahlah kalau sekarang. Maklum faktor U. Hehe…

Hingga sampailah di suatu masa, dimana kami para siswa, calon anggota BW, harus menjalani prosesi pendidikan dasar sebelum dilantik serta dinyatakan resmi sebagai anggota sehingga bisa masuk ke lingkaran organisasi lebih dalam. Dan prosesi itu adalah PDBW.

PDBW (Pendidikan Dasar Bhuanawarman)

PDBW adalah long march. Jalan kaki. Jalan jauh.

Selamat datang di Pendidikan Dasar Bhuanawarman. Kami terdiri dari 16 siswa kelas 1, 14 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Plus satu orang siswa kelas 2 yang ikut susulan PD. Total peserta ada 17 orang. Menghabiskan waktu 4 hari 3 malam. Hari-hari yang berkesan.

Salah satu hal yang paling melekat dari PD adalah long march. PDBW adalah long march. Jalan kaki. Jalan jauh. Itu adalah rekor perjalanan jalan kaki terjauh yang pernah saya lakukan selama hidup, sampai saat ini. Mungkin juga sama dengan siswa lainnya. Jangan harap long march ini seperti lagu naik-naik ke puncak gunung yang terkesan riang gembira. Long march ini adalah ujian kesabaran.

Long march PDBW mengajarkan saya tentang pentingnya ketekunan, proses dan bersyukur. Seperti disadarkan kembali bahwa ketekunan selalu membuahkan hasil, sekecil apapun, dalam hal apapun.

“Ayo siswa jangan lelet!”.

“Woy, ngabaduy!”.

“Jangan mengeluh siswaaa!”.

Begitu instruksi-instruksi dari para senior yang turut serta long march. Menyemangati sekaligus mengintimidasi. Dan membuat keuheul mendengarnya…

*

Metode pendidikan PDBW ini nomaden. Hari pertama kami diturunkan di daerah Baginda lalu menempuh perjalanan hingga camp I di Desa Cisoka, Sumedang Selatan.

“Mulai hari ini, hak-hak kalian kami cabut. Segala sesuatunya kami atur. Makan, minum, bicara, dll. Jangan melakukan apapun tanpa perintah dari para instruktur maupun senior. Sebaliknya lakukan apapun yang kami perintahkan”. Datar namun tegas intonasi Kang Cecep saat memberikan komando kepada kami para siswa.

“Ada yang mau pulang?!” tawarnya.

“BHUANAWARMAN TIDAK!”. Kompak kami berbohong pada diri sendiri. Hahaha…

Tiba di lokasi camp, kami membangun shelter dari ponco.

*

“BANGUN, BANGUN!” “BANGUN SISWA!”

Shit. Apa lagi ini?. Kami yang tidur berkelompok saling berpanik diri.

SATUUU! DUAAA!

“Cepat bangun!

Rasanya baru saja beberapa menit yang lalu menikmati indahnya ngalempengken-cangkeng di dalam bivak ponco, sudah harus mendapatkan lagi gangguan.

Kami semua berbaris di tengah-tengah dinginnya malam. Di hadapan kami, para instruktur dan senior sudah bersiap seolah ingin memangsa kami. Mudah ditebak, selanjutnya kami habiskan sepertiga malam dengan latihan fisik dan mental (baca : ini hanya ungkapan halus untuk penyiksaan).

*

“Nyanyi siswaaa!”.

Ini merupakan salah satu instruksi yang paling malas saya dengar. Kegiatan bernyanyi selama long march ditengah kondisi fisik dan mental tertekan seperti itu merupakan siksaan. Sungguh, boro-boro ingin nyanyi. Yang menjadi masalah lagi, interval menyanyi yang tidak kira-kira. Kami benar-benar diperlakukan layaknya playlist lagu di Winamp dengan mode shuffle on dan repeat all. Satu orang siswa saja ketahuan tidak bernyanyi, hadiah jalan bebek atau push up berantai siap menanti.

“Turun siswa! Jalan bebek!”.

Oh ya tentang jalan bebek ini juga salah satu hal yang tak bisa dilupakan dari PD. Kegiatan yang satu ini benar2 kurang ajar pokoknya. Males!

“Mendaki gunung lewati lembaah…”

“Sungai mengalir indaaah di Bangbayaaang…”

“Bersama teman bertualaaang…”

“Itulah ninja Bhuanawarmaaan…”

(Tips: Nyanyikan lirik di atas dengan nada soundtrack film Ninja Hatori)

Tujuan dari bernyanyi selama long march ini adalah menciptakan suasana yang riang gembira dan semangat. Tapi bagi saya, itu hanya berlaku di awal-awal saja. 1-3 lagu. Selebihnya cukup menyiksa.

Saat itu, diam tak banyak bicara benar-benar suatu kenikmatan. Bahkan hingga kini sih.

*

Plakkk!! tamparan melayang tepat di pipi kiri oleh salah satu senior.

“Hey siswa! Kamu dengar instruksi saya tidak!?”. Sebuah pertanyaan yang tidak perlu jawaban mendengung tepat di muka saya. Jawaban iya dan tidak sama saja.

“Turun!”. Selanjutnya bisa kalian tebak. Hadiah menanti.

“Kesalahan” saya tidak seberapa sih, saat itu siswa dikumpulkan untuk diangkut menggunakan truk. Saya yang berinisiatif untuk naik duluan dengan niat membantu naik rekan-rekan siswa lainnya ternyata dianggap sebagai sebuah tindakan indisipliner oleh senior tersebut. Ya begitulah.

Maka saya belajar, tidak selamanya niat baik itu selalu diapresiasi sama baik oleh orang lain. Di kehidupan nyata, pasca PD pun, kadang begitu.

Poinnya jelas, berada dalam kelompok/organisasi kita harus menghormati instruksi, ada rantai komando, yang bertujuan untuk membuat segala sesuatunya tertib. Inisitatif harus disampaikan terlebih dahulu dan mendapat persetujuan (kesepakatan).

Seperti itulah kira-kira hari-hari saya sebagai siswa, rasanya seperti berada dalam “neraka”.

Rawa Lembang

Nama angkatan kami Rawa Lembang, dan ini adalah cerita dibalik nama tersebut.

Para siswa PDBW XV Angkatan Rawa Lembang
Para siswa PDBW XV Angkatan Rawa Lembang berfoto bersama Pembina saat itu, Pak Dadeng.

Adalah simulasi operasi SAR yang dilakukan di hari pertama PDBW di daerah Cisoka yang membawa sebagian dari siswa merasakan bagaimana rasanya masuk ke dalam rawa. Belakangan saya mengetahui, dalam SAR, metode/tahap penyisiran tersebut dinamakan teknik Most Probable Potition (MPP). Silahkan baca tulisan bagus tentang SAR ini.

Insiden penyisiran korban yang harus menghadapi rawa tersebut memang cukup berkesan. Beberapa siswa hampir tenggelam dihisapnya, Hedi “buruy” termasuk salah satu siswa yang saya perhatikan cukup kerepotan, dia hampir saja tenggelam, lumpur sudah sebatas dada, mendekati leher. Beberapa senior memerintahkannya beranjak.

“Woy! Mau mati kalian? Naik!”

Rawa ini tidak terlalu besar, saya lupa persisnya. Kami sempat mengira bahwa itu hanya kolam biasa. Sehingga kami tak pernah khawatir akan ada ceria dihisap.

Langkah demi langkah begitu berat.

Sementara Lembang, merupakan nama gunung dimana rawa tersebut berada di sekitar kakinya.

Maka, saat memutuskan untuk memberi nama angkatan, disepakatilah Rawa Lembang sebagai nama angkatan kami. Angkatan XV Bhuanawarman. Beberapa rekan seangkatan kadang menyebutnya juga dengan alias Rawel atau Rabang.

Nama Hutan

Memang sudah menjadi tradisi bahwa setiap siswa mendapatkan nama hutannya saat PDBW. Beberapa anggota hingga saat ini dengan baik mengingat nama hutan serta babadnya, namun banyak pula yang memang lupa atau melupakannya.

Di malam keempat PDBW, saat sesi ramah tamah dengan para anggota senior, para siswa mendapatkan nama hutannya masing-masing. Beberapa ada yang mendapatkan nama hutan selama hari2 Pendidikan.

Saat itu, hampir seluruh siswa mendapatkan nama hutannya dari kang Cecep, dengan terlebih dahulu melalui dengar pendapat dari para senior serta para siswa yang telah mengenal selama 3 hari 3 malam tersebut.

Pemberian nama hutan ini biasanya didasari dari kejadian/tingkah si siswa selama PDBW, karakter pribadi, atau juga tampilan fisiknya. Atau bahkan kemampuan khusus. Misal, seperti salah satu anggota angkatan XIV dengan nama hutan gajah. Bukan, bukan karena hidungnya panjang mirip belalai, tapi kemampuannya menggerakan telinga yang mirip seperti gajah mengibas2kan telinganya.

Kawan saya, Atmo, adalah orang yang pertama kali mendapat nama hutan di angkatan Rawel. Saat itu adalah jam istirahat makan siang di hari pertama PDBW. Dia mendapat julukan nama hutan chicken alias ayam, karena saat itu dialah satu2nya siswa yang makan dengan lauk cukup mewah diantara siswa lainnya, ayam goreng. Namun, alias ini tak bertahan lama, nama hutan resminya adalah kancil. Tubuhnya memang kecil dan lincah pada saat itu. Kini rutinitas sedikit mengikis kelincahannya.

Wiharsa, saya cukup mengenal karakter orang yang satu ini. Beberapa perjalanan mengajari kami. Seorang yang tulus, tidak memiliki hidden agenda, dan ceria. Nama hutannya Dogar singkatan dari domba garut. Ya, rambutnya yang ikal khas, melinting seperti tanduk dan bulu domba.

Toed adalah jenis burung yang memiliki kicau khas dan nyaring. Nama hutan ini adalah milik Sepyandri. Laki2 ini tidak bawel sebenarnya, namun cukup berisik jika saat ngobrol. Dan nama hutan itu memang cocok spertinya.

Hedi termasuk salah satu kawan dekat saya selama di SMA, pernah satu kelas saat kls 3, IPS 1 tepatnya. Namun begitu pertemanan kami telah terjalin saat awal2 menadi siswa baru di Saci. Nama hutan dia adalah Buruy, istilah sunda untuk anak katak. Nama hutan ini didapat karena kakanya, salah satu senior di angkatan III Arus Deras yaitu kang Agus Suyaman, memiliki nama hutan gendot atau kecebong. Dari situlah, mungkin karena ada trah keluarga katak di Bhunawarman maka Hedi sebagai sang adik mendapat nama hutan buruy.

Asep Hery alias Chenfonk diberi nama hutan Sukun.

Saya sendiri diberi nama hutan Batu. Alasannya? Mengutip pendapat dari Kang Wiharsa Dogar, katanya, karena saya orangnya pendiam dan keras kepala.

Nana Wiharna adalah ketua angkatan kami. Nama hutannya bancet, tapi saya lupa babadnya seperti apa.

Masih banyak yang belum saya masukan karena keterbatasan memori. Lain kali saya perbaharui mengenai topik nama hutan ini. Insya Allah.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s