Tags

, , , , , , , ,

"Ujung Genteng here we comeeee...!"Seperti biasa, turing yang tak direncanakan ini membawa saya dan 2 brothers ke Ujung Genteng, Kab. Sukabumi. Semula kami berencana akan pergi ke Kuningan dengan Ketua Pengda HTCI Jabar, karena tidak jadi, akhirnya berangkatlah ke Sagaranten dan selanjutnya ke Ujung Genteng.

Sagaranten, sebuah tempat yang bahkan di Google Earth pun saya cari-cari tidak ketemu.  (update: sudah ada di GE sekarang!)

Entahlah, dimana itu. Serasa di antah berantah.

Kami bertiga berangkat dari Bandung sekitar pukul 8 malam, tiba di Sagaranten sekitar tengah malam pukul 12.

Sempat beristirahat buat isi perut dengan Sate Maranggi di Cianjur, karena bung Baik belum makan malam sementara saya dan si bro (bro dudut) sudah, jadi ga enak, masa kita sudah makan, bung baik belum…

Menu makan malam. Sate maranggi

Baiklah, selanjutnya kita bercerita trek yang dilalui.

Setelah makan malam itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Sukabumi. Entahlah, emang dasar lagi senang2nya bermain atau apa, kita malah muter jalan ke daerah Cibeber untung saja bisa keluar di daerah Warung Kondang, Cianjur, kalo gak bisa-bisa terdampar di Sindang Barang, pantai selatan Cianjur.

Niatnya sih semacam ingin potong kompas. Eh, malah muter disitu juga.

Sukabumi…

Buat ke Sagaranten kita sebenernya tinggal belok kiri dari lampu merah yang sebrang bandros “ata” yang terkenal itu (ke daerah Baros). Cuma ya itu dia, karena (lagi-lagi) si bro senang jalan2, jadilah kita belok di belokan deket Lapang Merdeka.

Entahlah kita berada dimana malam itu, karena kondisi malam yang gelap. Tiba2 kita keluar begitu saja di jalan baru/ByPass! Blasst! Belok ke kanan.

Ternyata salah. Harusnya belok kiri tadi. Muterlah.

Mulai dari sini, perjalanan sangat mencekam untuk dijalankan, bukan diceritakan.

Selama 2 jam, kurang lebih, yang kita lewati cuma hutan, jurang, hutan, goa Buni Ayu, hutan lagi. Terus saja seperti itu. Sesekali ada kampung itupun cuma berapa menit. Gak lebih dari 30 menit, 15 menit juga gak, kembali lagi hutan.

Malam itu kami meliuk-liuk menyusuri hutan…

Kondisi jalan sendiri sebenarnya cukup bagus. Tidak terlalu rusak parah, walaupun tetap saja ada beberapa bagian jalan yang berlubang dan bahkan lebih tampak seperti kolam buatan di tengah jalan. Gelapnya malam itu benar2 gelap sekali. Lampu motor pun kadang tak mampu menembus gelapnya trek yang sedang dilewati. Cahaya rembulan apalagi, pekat tertutup rimbunya pohon. Pohon-pohon besar segede-gede banget, ada di setiap pinggir jalan, jalan yang sangat besar, yang cukup buat satu mobil saja. Kabut turun bersama gerimis, yang dinginya menembus jaket kami. Siluet tebing di sisi kanan kiri, angkuh dan nanar seperti sedang menatap.

Setangkai rokok cukup memberi kehangatan untuk beberapa saat.

Jalan ini seperti tak ada habisnya, terus berkontur seperti itu. Saya sempat berpikir kalo kita tersesat dalam labirin *owh*.

Iya, jalan itu seperti kembali lagi, kembali lagi kesitu. Perasaan was-was yang sangat teramat sangat. Khawatir akan keberadaan perompak!.

Sepanjang malam itu cuma kami bertiga dan berdua motor yang ada. Kadang ada satu motor tiap 20 menit lebih. Lalu kadang ada 1-2 truk yang melintas juga, tidak sampai sepuluh truk yang kami temui malam itu yang berpapasan dengan kami.

Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup menengangkan itu, sekitar pukul 12 tengah malam kita sampai di tempat tujuan, Sagaranten, rumahnya si Abah. Senior Gadesta. ;-)

Si Abah ini namanya Yosa, katanya terinspirasi dari permen karet Yosan.

“Urang geus nepi bah di hareupeun sekre Gadesta” begitu suara si bro melalui hape saat menelpon si Abah, dibawah lampu PJU temaram berwarna oranye. Ahh, kita bisa sedikit bernafas lega…

Pagi esok harinya, kita lanjutkan perjalanan menuju Ujung Genteng. Setelah beres sarapan di rumah si Abah dan berpamitan, kita meluncur lagi. Si abah asalnya mau ikut juga cuma karena harus pentas pada konser sunatan di desanya terpaksa tidak ikut serta merta.

Mesin motor sudah mulai panas, kita mulai menyusuri jalan kembali. Jalan cukup mulus untuk beberapa kilometer. Selanjutnya kita akan melewati hutan jati yang cukup panjang. Mulai setelah melewati trek ini, jalan cukup parah ancur!. Cocoknya pake motor trail kesini. Sangat curam sekali, jalan berlubang parah dengan bebatuan yang besar dan trek menurun, bikin pantat ngos-ngosan. Entahlah, bagaimana ceritanya kalo malam tadi kita memutuskan untuk berangkat ke UG dengan melewati jalan yang “sangat mulus” ini, cuma buat ngejar sunrise saja.

Hfffft.

Sampai di kota Kecamatan Sagaranten, bung Baik isi bensin dulu. Kejutan! Harga bensinnya relatif terjangkau mahal!. Satu liternya seharga Rp 10.500!. Tapi ya bagaimana lagi, daripada harus balik lagi ke Sukabumi cuma buat isi bensin kan gak lucu.

Trek yang dilewati adalah jalur dari Sagaranten menuju Padabeunghar lalu keluar di Jampang Kulon. Kita rest bentar, sekedar isi ulang cairan yang terus keluar dari tubuh yang diterpa panas.

Dari Jampang sudah mulai tercium aroma2 pantai. Sudah lumayan dekat. Setelah isi bensin buat Tigynya si Bro, kami geber lagi. Tadi kata si mas2 di SPBU bilang cuma tinggal 15-30 menitan lagi. Wahhh, semangat terbakar kembali!

Kondisi jalan dari Jampang Kulon – Ujung Genteng hampir 90% enak buat digeber.

The River

Sungai apa yah? Lupa namanya?

Akhirnya sekitar pukul 1 siang kita tiba di UG (Ujung Genteng). Bayar tiket Rp 8000. Wusshhh…… Oh, ternyata dari pintu gerbang masuk, masih cukup jauh menuju pantainya.

Sekitar 15 menit, kami baru berlabuh di bibir pantai.

Laut Ujung Genteng memang masih benar2 alami. Bening. Juga hijau kebiru-biruan. ;-)

Bening sekali bukan...

Bening sekali bukan…

Ah, coba kita sampai bukan disiang bolong seperti ini. Ke pantai saat siang terik itu rasanya sangat panas sekali, dan agak gak enak.

Cukup lama menikmati pantai, sekitar 2 jam, kita kembali pulang. Iya, pulang.

Di perjalanan pulang kita mampir dulu di Amanda Ratu. Ternyata lebih enak disini viewnya. Ada villa2 juga buat disewain. Cukup asri.

View dari amanda ratu

View dari amanda ratu

Disuguhi view yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, dengan seonggok batu karang besar di lepas pantai yang mulai ringkih diterjang ombak2 yang ganas. Dari atas kita bisa betah berlama-lama menikmati view ini.

Di Amanda Ratu

Di Amanda Ratu

Trek pulang kami kembali lewat Jampang Kulon – Kiaradua lalu belok kanan menuju Lengkong – Bojong Lopang – Nyalindung – Baros – Sukabumi – Cianjur lalu nyasar dulu ke Cibeber dan hampir saja ke Sindang Barang, pantai selatan Cianjur. (Lagi!)

Tengah malam nyasar ke trek yang lagi2 seperti waktu kita akan berangkat ke Sagaranten. Hutan, bro!. Ditambah lampu si Tigy putus. Makin gelaplah. Untung ada bro Baik. Lampu motornya masih berfungsi dengan baik.

Akhirnya, sekitar pukul 12 malam kita sudah kembali dengan selamat dan lelah di kosan tercinta. Cisitu OldSkull No.1.

About these ads