.:: WELCOME TO BRITIS 081's BLOG::.

Sagaranten & Ujung Genteng

Oktober 11, 2008 · & Komentar

"Ujung Genteng here we comeeee...!"Lagi seperti biasa, turing yang tak direncanakan ini membawa saya dan 2 brother ke Ujung Genteng, Kab. Sukabumi. Semula saya dan si bro berencana pergi ke Kuningan dengan Ketua Pengda HTCI Jabar, karena tidak jadi akhirnya jadilah ke Sagaranten dan terus ke Ujung Genteng.

Sagaranten, sebuah tempat yang bahkan di Google Earth pun saya cari-cari tidak ketemu. ;-p (udah ad di GE sekarang!)

Entahlah, dimana itu. Serasa di antah berantah…

Berangkat dari Bandung malam sekitar pukul 8 malam, sampai di Sagaranten sekitar tengah malam pukul 12.

Kita istirahat sekali buat makan Sate Maranggi di Cianjur, karena bung Baik belum makan malam sementara saya dan si bro (bro dudut) sudah, jadi ga enak, masa kita sudah makan, bung baik belum…
Ga enak kan?

Nyatelah kita… eh, bung Baik sajah, maksudnya..
1 Porsi Sate Maranggi. Rp 14000.

Menu makan malam. Sate maranggi

Menu makan malam. Sate maranggi

Sebelumnya ketemu anak CTC (Cianjur Tiger Club), terus dianterin sama dia ke Tukang sate yang deket Bakso Senggol. Makan sate, bukan bakso.

Baiklah, selanjutnya kita bercerita trek yang dilalui.

Setelah makan malam itu, kita lanjut menuju Sukabumi. Dasar lagi senang2nya bermain, kita muter jalan ke Cibeber terus malah keluar di Warung Kondang, Cianjur!. Dan hampir sajah kita malah ke Sindang Barang, pantai selatan Cianjur, Bah…! niatnya seperti ingin potong kompas. Eh, malah muter disitu juga. Padahal kalo via Cianjur kota, cuma butuh berapa puluh menit ke Sukabumi, ini waktunya molor berapa jam. 1,5 jam kalo gak salah. heu.. ; )

Sukabumi…

Buat ke Sagaranten kita sebenernya tinggal belok kiri dari lampu merah yang sebrang bandros “ata” itu. Cuma, karena si bro senang jalan2, jadilah kita belok di belokan deket Lap.Merdeka.

Entahlah kita berada dimana malam itu, karena kondisi malam yang gelap. Tiba2 kita keluar di ByPass!
Blasst! belok ke kanan.
Ternyata salah jalan. Harusnya belok kiri tadi. Muterlah kita.

Mulai dari sini, perjalanan sangat2 mencekam untuk dijalankan, bukan diceritakan.

Selama 2Jam kurang lebih, yang kita lewati cuma hutan, jurang, hutan, goa Buni Ayu, hutan lagi. Terus saja seperti itu. Sesekali ada kampung itupun cuma berapa menit. Gak lebih dari 30 menit, 15 menit juga kagak, sudah kembali kepada hutan.

Malam itu kami meliuk-liuk menyusuri hutan…
Kondisi jalan sendiri sebenarnya cukup bagus. tidak terlalu rusak parah, walaupun tetep aja ada beberapa bagian jalan yang berlubang dan bahkan lebih tampak seperti kolam buatan di tengah jalan.
Gelapnya malam itu benar2 gelap sekali. Lampu motor pun kadang tak mampu menembus gelapnya trek yang kita lewati. Cahaya rembulan apalagi, pekat tertutup rimbunya pohon. Pohon-pohon besar segede – gede banget, ada di tiap pinggir jalan, jalan yang sangat besar, yang cukup buat satu mobil saja. Kabut turun bersama gerimis, yang dinginya menembus jaket kami. Siluet tebing2 di sisi kanan kiri, angkuh dan nanar seperti menatap kami.

Setangkai rokok cukup memberi kehangatan untuk beberapa saat.

Jalan ini seperti tak ada habisnya, terus berkontur seperti itu.
Saya sempat berpikir kalo kita tersesat dalam labirin. Yah… jalan itu seperti kembali lagi,kembali lagi kesitu.

Perasaan was-was yang sangat teramat sangat. Khawatir akan keberadaan perompak!.
Sepanjang malam itu cuma kami bertiga dan berdua motor yang ada. Kadang ada satu motor tiap 20 menit lebih. Lalu kadang ada truk2 yang melintas juga, dan itu bisa dihitung jari tidak sampai sepuluh truk yang kami temui malam itu berpapasan.

Di Sagaranten, rumah si Abah

Di Sagaranten, rumah si Abah

Setelah perjalanan yang cukup “menengangkan” itu, akhirnya sekitar pukul 12, kita sampai di tempat tujuan. Sagaranten rumahnya si Abah. Senior Gadesta. ;-)

“Urang geus nepi bah di hareupeun sekre gadesta” begitu suara si bro dihape saat menelpon si Abah.

Dibawah lampu PJU, temaram berwarna oranye…
Ahh, kita bisa sedikit bernafas lega…

Pagi esok harinya, kita lanjutkan perjalanan menuju Ujung Genteng. Setelah beres sarapan di rumah si abah terus berpamitan, kita meluncur lagi. Si abah asalnya mau ikut juga cuma karena harus pentas pada konser sunatan didesanya jadilah gak jadi ikut serta merta.

Mesin motor sudah mulai panas, kita mulai menyusur jalan kembali. Jalan cukup mulus untuk beberapa kilometer. Selanjutnya kita akan melewati hutan jati yang cukup panjang. Mulai setelah melewati trek ini, jalan cukup parah ancur!. Cocoknya pake trail kesini. Sangat curam sekali, jalan berlubang parah dengan batu segede-gede banget dan menurun, bikin pantat ngos-ngosan. Entahlah, gimana ceritanya kalo malam tadi kita jadi buat berangkat ke UG dengan melewati jalan yang “sangat mulus” ini, cuma buat ngejar sunrise saja.
Heu… ;-)

Sampai di kota kecamatan Sagaranten, bung baik isi bensin dulu. Harganya relatif terjangkau mahal. Satu liternya seharga Rp 10.500. Yah, lumayanlah daripada harus balik lagi ke Sukabumi cuma buat isi bensin kan gak lucu. Tua dijalanlah. ;-)

Trek yang dilewati adalah jalur dari Sagaranten menuju Padabeunghar lalu keluar di Jampang Kulon.
Kita rest bentar, sekedar isi ulang cairan yang terus keluar dari tubuh diterpa panas.

Dari Jampang sudah mulai tercium aroma2 pantai. Sudah lumayan dekat. Setelah isi bensin buat Tigynya si Bro kita geber dari sini. Tadi kata si mas2 SPBU bilang cuma tinggal 15-30 menitan lagi. Wahhh.. semangat terbakar kembali….!

Kondisi jalan dari Jampang Kulon – Ujung Genteng hampir 90% enak buat digeber.

The River

The River

Akhirnya sekitar jam 1an kita sudah nyampe di UG. Bayar tiket 8000. Wusshhh……
Oh, ternyata dari pintu gerbang masuk, masih cukup jauh menuju pantainya. Sekitar 15 menit, kita baru nyampe di Pantai.;-(

*sudahsangatlelahinginbertemupantay*

Ternyata laut Ujung Genteng memang masih benar2 alami. Bening. Juga hijau kebiru-biruan. ;-)

Bening sekali bukan...

Bening sekali bukan...

Ujung Genteng Beach

Ujung Genteng Beach

ahhh, coba kita sampai bukan disiang bolong seperti ini… hehehe. Ke pantai siang terik seperti ini rasanya sangat panas sekali, dan agak gak enak.
Cukup lama menikmati pantay sekitar >2jam, kita kembali pulang.

Sebelumnya kita mampir dulu di Amanda Ratu. Ternyata lebih enak disini viewnya. Ada villa2 juga buat disewain. Cukup asri.

View dari amanda ratu

View dari amanda ratu

Dengan view menghadap langsung ke samudera Hindia, dengan seonggok batu karang besar di lepas pantai yang mulai ringkih diterjang ombak2 yang ganas. Dari atas kita bisa betah berlama-lama menikmati view ini.

Di Amanda Ratu

Di Amanda Ratu

Trek pulang ini kita kembali lewat Jampang Kulon – Karadua lalau belok kanan menuju Lengkong – Bojong Lopang – Nyalindung – Baros – Sukabumi – Cianjur lalu nyasar dulu ke Cibeber dan hampir saja ke Sindang Barang, pantai selatan Cianjur. ;-)

Tengah malam nyasar ke trek yang lagi2 seperti waktu kita berangkat ke Sagaranten. Hutan, brooo!. Ditambah lampu si Tigy putus. Makin gelaplah. Untung ada bro Baik…. Hffffffff…

Akhirnya, pukul 12an malam kita sudah kembali dengan selamat dan lelah di kosan tercinta.
Cisitu OldSkull No.1

*whatAhardJourney*
*bestPlan,is,NoPlan*

#click for more photo @ xdinx.multiply.com

Kategori: Mata Kamera · Touring · Touring Report
Ditandai: , , , , , , ,

9 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar